Breakfast Forum, Updates

Reuni Berbalut Diskusi Breakfast Forum 2 September 2022

Setelah 2 tahun Breakfast Forum dilaksanakan secara online karena pandemi COVID-19. Pada hari Jumat, 2 September 2022, Breakfast Forum kembali dilaksanakan secara offline di Soehanna Hall, The Energy Building, SCBD secara offline. Breakfast Forum kali membahas tentang “Stagflasi Global dan Resiliensi Ekonomi Indonesia”, sebuah topik bahasan yang sedang hangat untuk didiskusikan saat perekonomian global menghadapi tantangan yang masif. 

Beberapa faktor mendorong peningkatan ketidakpastian, bahkan memperburuk dampak kepada pertumbuhan Global yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 seperti eskalasi tensi geopolitik dalam bentuk invasi militer Rusia ke Ukraina. Lebih lanjut, peningkatan harga komoditas energi global yang sudah berlangsung sejak paruh kedua 2021 semakin melonjak dan tren ini merambat ke komoditas pangan. 

Kombinasi dari perlambatan aktivitas ekonomi dan lonjakan inflasi merupakan kombinasi berbahaya dalam bentuk stagflasi. Lantas, bagaimana kondisi perekonomian Indonesia ke depan? Apakah Perekonomian Indonesia akan mampu melanjutkan pemulihan di tengah tekanan eksternal yang memuncak?  Pada Breakfast Forum kali ini semua hal tersebut dibahas tuntas pada sesi pemaparan panelis dan dilanjutkan dengan diskusi pada sesi QnA.

Acara dipandu oleh MC Agnes Salyanty (FEB UI 2001) dan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diiringi alunan Piano oleh
Aldo Silitonga (FEB UI 2016).

Alexandra Askandar (Ketua Umum ILUNI FEB UI) mengungkapkan rasa syukur  karena untuk pertama kalinya sejak dua tahun terakhir Breakfast Forum dapat dilaksanakan kembali secara offline (tatap muka). 

Momen ini memberikan banyak manfaat untuk alumni FEB UI karena alumni dapat terus belajar sambil silaturahmi/reuni dan ter-update informasi terkini terkait perekonomian domestik, regional & global serta dampaknya bagi aktivitas masing-masing di sektor riil dan finansial. 

Suahasil Nazara (Wakil Menteri Keuangan RI) menyampaikan kebijakan-kebijakan yang sudah disiapkan oleh pemerintah saat ini untuk mengantisipasi gejolak perekonomian global. Covid-19 telah menyebabkan pilihan-pilihan yang sulit bagi pemangku kepentingan. Kelonggaran (ekspansi fiskal maupun moneter) yang terjadi selama pandemi menyebabkan potensi inflasi yang besar yang mengharuskan bank sentral melakukan kebijakan kontraksi dengan kenaikan tingkat suku bunga.

 Di sisi lain kenaikan tingkat suku bunga akan menjadi handicap untuk dunia usaha yang belum benar-benar pulih dari pandemi. Ia juga menjelaskan trade-off kenaikan harga BBM bersubsidi sebagai upaya untuk mencegah defisit APBN yang semakin besar pada tahun-tahun mendatang.

Diskusi panel dipandu oleh Ibrahim Kholilul Rohman, Senior Researcher – IFG Progress dan dimulai dengan pemaparan dari para panelis denan topik yang sangat menarik.

James Walsh (Senior Resident Representative for Indonesia – IMF) memberikan gambaran bahwa perekonomian global berada di potensi terjadinya stagflasi yang ditandai dengan kenaikan tingkat inflasi dan stagnasi pertumbuhan ekonomi. Namun demikian dari berbagai indikator tingkat pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar dan tingkat suku bunga, Indonesia terlihat cukup stabil jika dibandingkan dengan negara lain.

Reza Y. Siregar (Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian) juga menyampaikan hal yang sama yaitu potensi stagflasi ke depan membutuhkan koordinasi lintas stakeholder dan kementerian agar Indonesia keluar dengan kebijakan yang solid dan measured. Ia memberikan gambaran insurance indicator dimana tingkat loan at risk yang diasuransikan di asuransi kredit sangat besar. Kesehatan Lembaga Keuangan perbankan dan non-perbankan sangat diperlukan untuk memitigasi risiko ke depan.

M. Chatib Basri (Komisaris Utama Bank Mandiri) menggambarkan beberapa blessing in disguise dari profil perekonomian Indonesia. Dengan relatif kurang terintegrasinya perekonomian Indonesia (misalnya proporsi asing dalam kepemilikan obligasi , proporsi ekspor terhadap PDB) Indonesia justru lebih resilien terhadap krisis global. Namun di sisi lain, Indonesia juga relatif lambat mengalami recovery ketika negara-negara lain telah recover dari krisis.

Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia memberikan tanggapannya.Dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab oleh para peserta kepada panelis,

Miranda Goeltom turut menyampaikan pendapatnya.

Breakfast Forum terselenggara dengan lancar dan sukses atas dukungan dari Bank Mandiri, Lembaga Penjamin Simpanan, Mandiri Sekuritas, dan IFG Progress.

Leave A Comment

Your Comment
All comments are held for moderation.